Batik Jambi Jadi Ikon Gelar Batik Nusantara 2019

61

Fachrori: Pengembangan Batitik harus Berkelanjutan

Jakarta, fakta.co – Kementerian Perindustrian Republik Indonesia bekerjasama dengan Yayasan Batik Indonesia, dan disponsori oleh berbagai instansi dan perusahaan menyelenggarakan Gelar Batik Nusantara (GBN) ke-11 2019¸ di Plenary Hall Jakarta Convention Center, yang dibuka pada Rabu (8/5) oleh Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), Hj.Mufida Jusuf Kalla didampingi oleh Menteri Perindustrian RI, Airlangga Hartarto.

Suatu kebanggan bagi Provinsi Jambi karena Batik Jambi dijadikon ikon dalam GBN ke-11 tersebut, dimana seluruh panitia menggunakan Batik Jambi. Hal tersebut tentunya turut membantu mempromosikan Batik Jambi, yakni produk yang dihasilkan berdasarkan budaya Provinsi Jambi dan menjadi salah satu ciri budaya Provinsi Jambi.

Usai pembukaan GBN, Gubernur Jambi, Dr.Drs.H.Fachrori Umar,M.Hum didampingi Ketua Dekranasda Provinsi Jambi, Hj.Rahima Fachrori Umar mengunjungi Stand Dekranasada Provinsi Jambi yang menampilkan Batik Jambi dengan berbagai motif dan warna.

Fachrori mengemukakan bahwa pengembangan Batik Jambi harus dilakukan secara berkelanjutan, secara terus-menerus, dengan harapan agar kualitas Batik Jambi terus meningkat, dan untuk itu, Pemerintah Provinsi Jambi bekerjasama dengan pihak-pihak terkait terus mendukung pengembangan Batik Jambi.

Ketua Dekranasda Provinsi Jambi Hj. Rahima Fachrori mengaku sangat bangga dengan dijadikannya Batik Jambi sebagai Ikon dalam GBN 2019, termasuk dengan adanya penghargaan yang diterima Provinsi Jambi dalam kategori Penghargaan Pemberi Inspirasi dan Motivasi, yaitu kepada Ida Maryanti, yang merupakan pengurus Dekranasda Provinsi Jambi. “Kita terus berupaya mengembangkan Batik Jambi, kita mensupport para pengrajin-pengrajin Batik Jambi, supaya mereka lebih semangat lagi, agar terus mengembangkan Batik Jambi, agar mutu Batik Jambi semakin meningkat dan semakin dikenal,” ujar Rahima.

Dalam arahannya, Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto mengatakan batik sudah menjadi fashion style (gaya busana) masyarakat Indonesia, perkembangan batik sangat pesat.

Airlangga Hartarto menyatakan, tahun lalu pertumbuhan industri tekstil 18,9%, menyerap tenaga kerja 628 ribu orang, sekitar sepertiganya kerja dalam usaha batik, dan nilai ekspor 52,44 juta US $, ke Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa.

Airlangga mengapresiasi seluruh penggiat batik, sehingga batik menjadi semakin popular. Dan mengapresiasi Yayasan Batik Indonesia yang secara konsisten menyelenggarakan GBN. Secara khusus, Airlangga mengapresiasi dijadikannya batik sebagai dress code dalam sidang Dewan Keamanan PBB pada 7 Mei 2019, diplomasi internasional menggunakan batik, termasuk Sekjen PBB menggunakan batik.

Airlangga menyampaikan, akhir-akhir ini, para pengrajin batik mencoba menggunakan bahan-bahan baru, yang menghasilkan barang baru yang lebih ringan dan warnanya lebih alami.

Airlangga berharap, dalam GBN yang diikuti 260 peserta selama 5 hari, masyarakat Indonesia bisa menikmati karya-karya batik terkini.

Ketua Panitia Penyelenggaran, Wida D.Herdiawan menyampaikan, tema GBN ke-11 Tahun 2019 adalah “Lestari Tak Berbatas” dengan Batik Jambi sebagai ikon dalam GBN ini.

Wida mengemukakan, batik tidak lagi berkonotasi tua dan kuno, namun sudah digemari berbagai kalangan, dan merupakan suat kekayaan budaya Indonesia.

Batik telah menjadi Fashion Statement bagi banyak orang. Agar batik tidak lekang oleh waktu dan industrinya dapat tetap bersaing global, maka pengrajin batik harus semakin kreatif dan inovatif dalam berkarya. “Batik dengan motif Batang Hari Pauh yang berasal dari Jambi, menjadi bagian identitas dari Gelar Batik Nusantara 2019. “Batang Hari” merupakan nama sungai terpanjang di Jambi dan Sumatera sejak Zaman dahulu. Digabungkan dengan “Pauh” yaitu sebuah kecamatan di Kabupaten Sarolangun, Jambi,” jelas Wida.

Wida mengatakan, 7 Mei 2019, batik menjadi dress code bagi delegani berbagai negara dalam Sidang DK PBB, sebagai penghormatan bagi Indonesia sebagai Presidensi DK PBB Tahun 2019.

Wida mengungkapkan, dalam rangka membidik generasi millennial, GBN ke-11 ini bekerjasama dengan berbagai komunitas muda. Komunitas tersebut antara lain sekolah desain busana, serta Putra Putri Batik Nusantara yang nantinya akan mempersiapkan berbagai program menarik seperti fashion show, talkshow, dialog Batik, workshop membatik, creative corne,r hingga pertunjukan musik tradisional selama pameran berlangsung.

Pada kesempatan tersebut diberikan penghargaan kepada orang-orang yang berkontribusi besar dalam melestarikan dan mengembangkan batik, yakkni: 1.Penghargaan Pengrajin Batik Berkarya Sepanjang Masa, 2.Penghargaan Pemberi Inspirasi dan Motivasi untuk Pelestarian dan Pengembangan Budaya Membatik, 3.Penghargaan Pembatik Inovatif, dan 4.Penghargaan Kriya Pusaka. Provinsi Jambi dianugerahi penghargaan Penghargaan Pemberi Inspirasi dan Motivasi untuk Pelestarian dan Pengembangan Budaya Membatik, yakni kepada Ida Maryanti (57 tahun), yang telah memotivasi dan menginspirasi lingkungan dan generasi muda dalam pengenalan dan pelatihan batik sebagai karya leluhur untuk dilestarikan dan dikemnangkan, sejak lebih dari 25 tahun terus-menerus.

Ketua Dekranas, Hj.Mufida Jusuf Kalla dan Bendahara Yayasan Batik Indonesia, Ingrid Hedy Hanoto meninjau stand batik Dekranasda Provinsi Jambi.

 

Ingrid Hedy Hanoto mengatakan Yayasan Batik Indonesia melaksanakan GBN sekali dua tahun. “Para ibu-ibu juga menyorot Batik Jambi, Jambi menceritakan bagaimana Sungai Batangharinya yang terpancar di batiknya, kemudian tengkuluknya, warna warninya, dengan filosofinya. Ada beberapa batik dari Sumatera, tetapi Jambi menjadi sorotan utama,” ungkap Ingrid Hedy Hanoto. (Ono/adv/hms).

LEAVE A REPLY