Belasan anak punk di Batanghari terjaring razia

0
17

BATANGHARI, FAKTA.CO – Satuan Pol PP Batanghari kembali turun ke Kecamatan Muara Tembesi, Selasa (5/12) setelah mendapat laporan dari warga di Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Muara Tembesi terkait adanya belasan anak punk yang meresakan warga setempat.

” Kami segera turun ke lokasi Taman Remaja Tembesi, karena mendapat laporan dari warga. ” Kata Komandan Batalyon, Sat Pol PP Batanghari, Hendri.

Menurutnya, saat anggota Pol PP turun terlihat anak punk kabur kucar kacir melarikan lari diri dari tangkapan anggota.  Namun upaya anggota berkerja keras agar mengejar anak punk hingga ke sawah yang ada di Kelurahan Kampung Baru.  ” Sampai ke sawah kami mengejarkannya.” Kata salah satu anggota.

Dikatakan Hendri, keberadaan anak punk sangat meresahkan masyarakat setempat. Mereka sering merusak bunga hias yang ada di taman bahkan sampai minuman keras.  Selain itu katanya, anak punk tersebut juga mengganggu warga saat beribadah di Masjid.  ” Kata pak Iman Masjid sering mandi air kolam di Masjid.  Sedangkan air tersebut diguna untuk berwudlu.” Ujarnya.

Adapun sebanyak 17 anak punk tersebut ada sekitar 3 orang cewek yang berasal dari berbagai daerah, seperti Jakarta dan adalah lainnya. ” Dari Tembesi ada 1 orang selain itu ada dari Jakarta maupun Kota Jambi.” Tambah Hendri.

Setelah dimasukan ke dalam mobil, pihak Pol PP mampir sebentar ke Kantor Camat Muara Tembesi untuk memberitahu kepada pihak kecamatan tentang giat yang dilakukan oleh Sat Pol PP di wilayah Kecamatan Muara Tembesi.  Setelah itu rombongan anak Punk akan dibawa ke Kantor Sat Pol PP Batanghari guna dilakukan pembinaan. ” Bawa kantor dulu untuk dibina serta didata . Selanjutnya akan kita antar ke perbatasan agar tidak ada lagi muncul di Kabupaten Batanghari ini.” Tutup Hendri.

Sementara salah satu anak punk, Jerry Al Fariz asal Jakarta menyebutkan, dirinya dulu pernah ke Batam hingga ahirhya masuk ke Kabupaten Batanghari. Jerry juga mengatakan dirinya tidak pernah melakuan ke arah kriminal . Dan apa yang dilakukan dengan berdalih tempat kehidupan. ” Orang tua kami ada, dan saya pernah sekolah STM selama 2 bulan.  Karena dikeluarkan saya gak sekolah lagi. Dan kenapa masih banyak penindasan terhadap kami.” paparnya. (her)

LEAVE A REPLY