Racun Rumput Ini yang Membuat Sri Apriyanti Bocah 15 Tahun Asal Muarasabak Ulu Nekad Bunuh Diri

0
556

Muarasabak, FAKTA.CO – Sri Apriyanti gadis remaja yang baru berusia 15 tahun asal Kelurahan Muara Sabak Ulu, Kecamatan Muara Sabak Timur,Tanjabtim nekad bunuh diri beberapa waktu lalu dengan meminum racun rumput merek WINNERXONE 276 SL.

FAKTA.CO berusaha menelusuri racun rumput merek WINNERXONE 276 SL dari berbagai sumber. WINNERXONE 276 SL adalah merek dagang dari perusahaan CV Nuansa Agroprima Indonesia. Kandungan bahan aktif dari WINNERXONE 276 SL adalah parakuat diklorida(paraquat dichloride): 276 g/l, setara dengan glyphosate active equivalent) : 200 g/l.

WINNERXONE 276 SL* di diskripsikan singkat Herbisida kontak purna tumbuh berbentuk larutan dalam air. Dan di jelaskan pemakaian untuk kelapa sawit gulma berdaun lebar borreria alata, Diodia sarmentosa, gulma berdaun sempit Ottochloa nodosa, Paspalum conjugatum (Penyemprotan volume tinggi : 1,5 – 2,5 l/ha).

Baca Juga – Miris, Bocah 15 Tahun dari Muarasabak Ulu, Tanjabtim Bunuh Diri karena Frustasi Pacarnya Tidak Bertanggungjawab

Namun, dari hasil penelusuran FAKTA.CO tidak menemukan peringatan akibat jika manusia tertelan atau terminum racun rumput itu. Dari penelusuran lainnya akibata meminum herbisida, gejala tidak langsung terlihat hebat setelah minum racun sehingga keluarga tidak langsung membawa ke RS. Makin hari, keluhan mulai muncul dan biasanya pasien dibawa ke klinik/puskesmas terdekat. Setelah beberapa hari dirawat, kondisi pasien semakin lemah karena tidak bisa menelan makanan (lidah dan tenggorokan melepuh) pasien pun dikirim ke RS yang lebih lengkap.
Rata-rata pasien tersebut masih bisa bertahan hidup 1-2 minggu, dengan kondisi yang makin lama makin lemah dan menyedihkan.Kondisi pasien makin lemah, tidak bisa makan minum karena lidah dan tenggorokan melepuh. Fungsi ginjal mulai terganggu, bahkan sampai harus cuci darah. Hati pun mengalami gangguan, mata makin kuning dan enzim hati makin tinggi. Timbul infeksi paru dan sesak nafas, gagal nafas dan berakhir dengan kematian. Berbeda dengan insektisida, herbisida ini tak ada obat penawar racunnya (antidotum).

Penanganan di RS hanya bersifat supportive, mengurangi keluhan dan pemberian nutrisi. Kalau pasien datang lebih awal, walaupun tidak ada antidotumnya, mungkin masih bisa diupayakan agar racun yang baru masuk ke tubuh tidak terserap dalam jumlah yang banyak.(ono)
Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY