Mengunjungi Pulau Asmara di Kaki Gunung Patuha Bandung

0
164
foto-net

Mitos Batu Cinta, Kisah Dramatis Asmara Ki Santang dan Dewi Rengganis

 
Pulau Asmara yang terletak di kaki Gunung Patuha,Kabupaten Bandung merupakan salah satu objek wisata yang banyak di kunjungi wisatawan dari berbagai pelosok negeri ini. Disana, ada Situ(danau dalam bahasa Sunda-red) Patenggang yang merupakan sebuah danau yang berada persis di kaki Gunung Patuha. Ramainya pengunjung disana,karena ada cerita menarik yang sampai sekarang di percaya masyarakat setempat.Karena di tempat itulah bertemunya Dewi Rengganis dan Ki Santang,yang tak lain adalah putra dari Prabu Siliwangi.Konon,percintaan mereka mendapat tantangan dari orang tua. Media ini menelusuri jejak percintaan kedua sejoli yang sempat terpisah puluhan tahun itu beberapa waktu lalu..

BUDHIONO – BANDUNG

Mengunjungi Bandung rasanya tidak lengkap jika tidak mengunjungi situs Patenggang.Situ Patenggang adalah sebuah danau yang berada di kaki Gunung Patuha, Kabupaten Bandung. Situ ini menjadi salah satu objek wisata yang cukup digandrungi di kawasan Bandung selatan. Terlebih di sana ada ”batu cinta” yang menjadi daya tarik pengunjung. Ya, batu cinta, sebuah batu yang terletak di pulau yang ada di tengah situ, yakni Pulau Sasuka atau orang sering menyebutnya sebagai Pulau Asmara. Batu cinta ini mengiringi legenda Situ Patenggang.

Pukul 13.00 harian ini mulai bergerak dari Kota Sumedang. Dari penuturan Dedi Rahmadi yang menemani harian ini, untuk mencapai ke situs Panengan di butuhkan waktu 1 jam perjalanan.Mobil minibus Mitsubishi berjalan perlahan,karena sore itu jalan menuju lokasi objek wisata macet.Karena banyaknya mobil lalulalang yang ingin ke tempat wisata.’’Selain Situ Patenggang,banyak juga objek wisata lainnya yang berdekatan. Tinggal kita pilih aja,mana yang kita mau,’’kata Dedi mulai bercerita sembari mengemudi mobilnya.’’Tetapi,kebanyakan mereka(wisatawan-red) mau melihat Batu Cinta itu kang,’’ujarnya sambil mengisap rokok kretek kesukaannyaa dalam-dalam.

Hamparan kebun teh,menyambut media ini saat mulai mendekati lokasi Batu Cinta. Suasana sejuk dengan semilir angin,membuat siapa pun akan betah berlama-lama di tempat itu. Dedi semakin lincah membawa mobilnya,saat jalan berliku dan berbelok tajam. Sesekali berhenti di hamparan kebun teh untuk mengabadikan foto dengan kamera yang di bawa harian ini.Terlihat sekali sumringah wajahnya.Dedi banyak bercerita dengan aksen Sundanya yang kental.Namun,sayangnya media ini sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan. Jadilah.suasana sore itu menjadi lucu dan kocak.’’Waduh..saya lupa siakang tidak mengerti bahasa Sunda ya,,,’’kata Dedi yang di dampingi istrinya dengan tertawa lepas.

Pukul 14.20 mobil yang membawa media ini sudah sampai ke pintu gerbang batu cinta.Untuk masuk kesana pengunjung di kenakan tiket masuk.Rombongan harian ini yang berjumlah empat orang,hanya di kenakan tiket masuk sebesar Rp 35 ribu. Harga tiket yang benar-benar terjangkau untuk semua golongan.
Menjelang sampai ke Batu Cinta, pengunjung harus menyewa kapal kecil dengan corak warna- warni. Karena letaknya ditengah danau. ‘’Ongkosnya hanya Rp 10 ribu perorang kang,’’kata Usep yang mengantarkan rombongan harian ini menuju lokasi Batu Cinta.

Dari cerita Usep, konon, situ yang airnya berasal dari Sungai Cirengganis ini merupakan kumpulan air mata dari pasangan Dewi Rengganis dan Ki Santang, yang cintanya tak bisa bersatu karena suatu keadaan. Namun, mereka akhirnya bisa kembali bertemu pada sebuah batu setelah sekian lama saling mencari. Batu inilah yang kelak dinamakan Batu Cinta. Mitos pun menyeruak, bagi pasangan yang berkunjung ke batu itu, cinta mereka akan abadi. Nama Patenggang pun diduga diambil dari kisah pasangan dalam legenda tersebut, yakni dari kata pateangan-teangan yang dalam bahasa Sunda berarti saling mencari.

Terlepas dari legendanya, Situ Patengan memang memiliki daya tarik tersendiri. Sejauh mata memandang, pengunjung dapat menikmati pemandangan indah berupa hamparan perkebunan teh, pegunungan, perkebunan stroberi, serta hutan yang mengelilinginya. Suasana terasa semakin nyaman karena kawasan ini berhawa sejuk. Bahkan, setiap harinya nyaris selalu ditandangi kabut. Pengunjung pun bisa mengelilingi danau menggunakan perahu. Sama halnya dengan legenda batu cinta, konon, jika pasangan mengelilingi situ ini akan diberikan kelanggengan.

“Setiap tanggal 14 Maulid, pada hari itu dilaksanakan ritual syukuran yang dilakukan masyarakat sekitar Situ Patengan di Pulau Sasuka. Acara itu juga merupakan bentuk penghormatan pada tanah leluhur, dilakukan semalam suntuk, dan terbuka untuk umum,’’kata Kang Hadi pengelola situ Patenggang sebelum media ini dan rombongan pulang saat hari mulai gelap.Dan satu persatu kios pedagang yang ada di sana mulai tutup.(ono)

LEAVE A REPLY